Rabu, 31 Juli 2013

My Pretty Boreumi 4

0 comments
Penulis       : Lee Yoon Hee
Penerjemah: Primastuti Dewi
Penerbit      : PT M&C Gramedia
Tahun         : 2013
Ukuran       : 13,2 x 20 cm
Halaman     : 176 hal
Harga          : Rp. 25.000,-
sumber: http://www.mnc-comics.com
Ternyata Kye Hwa memiliki masa lalu yang kelam.
Ia kehilangan adiknya.

My Pretty Boreumi 3

0 comments
Penulis       : Lee Yoon Hee
Penerjemah: Primastuti Dewi
Penerbit      : PT M&C Gramedia
Tahun         : 2013
Ukuran       : 13,2 x 20 cm
Halaman     : 168 hal 
Harga          : Rp. 25.000,-

sumber: http://www.mnc-comics.com
Boreumi marah saat tahu Si Baek membantunya
karena dijanjikan akan diajari sihir oleh ayahnya.

My Pretty Boreumi 2

0 comments
sumber: http://www.mnc-comics.com
Penulis           : Lee Yoon Hee
Penerjemah    : Primastuti Dewi
Penerbit          : PT M&C Gramedia
Tahun             : 2013
Ukuran           : 13,2 x 20 cm
Halaman        : 168 hal 
Harga             : Rp. 25.000,-









Karena merasa diremehkan Seol, mantan tunangan Si Baek, Boreumi terpaksa ikut lomba Pemilihan Wanita Paling Terdidik di Yeonan.

Boreumi harus menang jika tidak ingin menghancurkan martabat keluarga suaminya yang merupakan orang nomor 1 di Yeonan.

Dalam waktu 3 hari, Boreumi harus menguasai cara menyajikan teh, teori tata karma, dan kerajinan tangan!

Meski dalam suasana tegang,
Boreumi senang karena Si Baek selalu mendukungnya.
Tapi sebenarnya…
Apa alasan Si Baek membantu Boreumi?!

***

Mantan tunangan Si Baek mendatangi rumah mertua Boreumi dan mengatakan bahwa tingkat kesantunan Boreumi belum sesuai dengan perkumpulan kantung sutra. Dalam perkumpulan kantung sutra itu para wanita bangsawan berkumpul setiap bulan untuk mempelajari dan mengasah tata karma yang perlu mereka kuasai. Merasa diremehkan oleh Seol, akhirnya Boreumi bertekad untuk membuktikan kalau dia dapat berhasil pada perlombaan Pemilihan Wanita Paling Terdidik yang disponsori oleh toko kue beras Seoul di bawah asuhan Perkumpulan Wanita Yeonan. Perlombaan itu dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah menyajikan teh dan Boreumi mendapat nilai cukup tinggi karena pengetahuannya mengenai teh. Tahap kedua adalah ujian tertulis tentang tata krama. Pada ujian ini terjadi kehebohan karena soal ujian Boreumi dicuri!!

***

Kehadiran si penulis di dalam cerita sebagai arsitek (?!) yang memperbaiki rumahnya Si Baek sebenarnya tidak perlu muncul. Tapi, sepertinya penulisnya narsis dan pengen eksis deh.. Hahaha… Hmm… Penerjemahnya beda nih sama volume 1.

Pengetahuan Boreumi tentang teh membuatku penasaran, apakah benar kalau teh jahe dapat membantu proses penyembuhan penyakit flu, sedangkan teh daun pinus dapat membuat awet muda? Yah, walaupun fiksi kan kadang rasa penasaran itu gak dapat dibendung. Rasanya bahagia kalau informasi yang ada di dalam cerita fiksi itu ternyata merupakan pengetahuan yang sebenarnya. Jadi ingat, dulu ketika membaca komik Price of Tea, aku jadi mengetahui ternyata jenis teh itu sangat beragam. Beberapa jenis teh yang langsung kucoba setelah membaca komik itu adalah teh Assam, teh Darjeeling, dan teh Earl Grey (karena mereka karakter favoritku di komik itu).

Harga Manhwa ini setelah dapet diskon 10% (pake kartu member Gramedia Card) masih saja tergolong ‘mahal’ karena setara dengan harga makan siang selama 1 hari *curcol*.

Selasa, 30 Juli 2013

My Pretty Boreumi 1

0 comments


sumber: http://www.mnc-comics.com
Penulis          : Lee Yoon Hee
Penerjemah   : Presilia Prihastuti
Penerbit         : PT M&C Gramedia
Tahun             : 2013
Harga             : Rp. 25.000,- 
Ukuran           : 13,2 x 20 cm
Halaman         : 184 hal











Boreumi terkena kutukan
Tepat di hari pernikahannya
Ia berubah menjadi
Buruk rupa.

Dan syarat agar kutukan itu hilang
Adalah “cinta”

“Kutukan akan hilang
Jika ada orang yang mencintaimu
Seperti kau mencintainya.”

***
                                                                                                                                                                                      
Tokoh utamanya adalah Boreumi yang merupakan anak dari pasangan penyihir-bidadari yang digambarkan cantik tanpa cela. Selama 16 tahun, Boreumi hidup terisolasi dan hanya tinggal berdua dengan sang ayah. Suatu hari, si ayah menjodohkan Boreumi dengan anak gubernur. Masalah terjadi di hari pernikahan Boreumi. Kutukan yang ditujukan ke ayah Boreumi salah sasaran dan akhirnya mengenai Boreumi. Akibat kutukan itu, wajah Boreumi berubah menjadi buruk rupa. Namun, ibu Boreumi memberikan barang yang jika digunakan pada saat bulan purnama akan memperlihatkan sosok Boreumi yang cantik tanpa cela.

***

My Pretty Boreumi merupakan salah satu Manhwa (komiknya Korea) yang menjadi favoritku. Sosok Boreumi ini ceria dan periang walau selama 16 tahun terisolasi di dalam hutan. Sedangkan tokoh utama pria-nya, Si Baek yang menjadi suami Boreumi ini digambarkan sebagai pria yang tampan tapi manja dan playboy, yah tipe bad boy banget tapi gak bisa berantem.. Hahaha.. payahhh….

Yang membuatku tertarik, selalu saja ada extra story dan sedikit cuplikan volume berikutnya yang bikin penasaran. Alur ceritanya pun menarik untuk diikuti (gak keputus-putus kayak Twinkle). Dan kadang, tiba-tiba aja si komikusnya ikutan ngomong di dalem cerita. Buatku, hal itu menjadi salah satu nilai tambah. Sepertinya aku cocok dengan gaya penulisan si Lee Yoon Hee ini.

Sayangnya harga Manhwa lebih mahal daripada harga Manga, mungkin karena ukurannya sedikit lebih besar. Harga Manhwa ini berbanding lurus dengan harga Martabak Terang Bulan coklat-keju-tanpa wijen dan kacang. Untunglah jarak terbit antara satu volume dengan volume berikutnya ada jeda hampir sebulan. Jadi bisa nabung dulu buat beli volume berikutnya.

Sabtu, 27 Juli 2013

Generasi C.E.O gathering

0 comments
Semasa kuliah dulu, angkatanku punya moto "Cause we care and love each others". Moto itu selalu hadir disaat masa-masa ujian berlangsung. Entah itu ditulis besar-besar di papan tulis, dicoret di buku catatan kuliah, bahkan ditempel di paket snack yang menjadi teman begadang kala belajar hingga dini hari. Jumlah kami hanya 40 orang dan sudah berkurang 3 orang saat di tingkat 1. Maklum, kami berkuliah di perguruan tinggi kedinasan yang menerapkan sistem drop out di setiap semester. Kami akan di drop out jika nilai kami dibawah standar. Nah, moto itu paling sering muncul kala kami remedial mengulang ujian mata kuliah yang mendapat nilai dibawah standar.

Setelah lulus, beberapa rekanku menyebut kami sebagai Generasi C.E.O yaitu Generasi Care Each Other dan sering mengadakan kegiatan yang sifatnya menambah wawasan, seperti: seminar hypnoterapi.
Hari rabu (23/7/2013) lalu, kami mengadakan gathering sekalian buka puasa bersama di Soeltan Cafe. Tak terasa kalau kami sudah bersama-sama selama 8 tahun 11 bulan. Acara gathering-nya pun lumayan seru. Diawali dengan tampilan slide show foto-foto kami semasa kuliah, membuatku mengenang masa-masa penuh perjuangan.

Semoga persaudaraan dan tali silaturahmi yang terjalin diantara kami akan kekal dan tak lekang oleh waktu.

C.E.O

Kamis, 25 Juli 2013

'Eid Mubarak

0 comments

Tanpa terasa, hari sudah memasuki pertengahan Ramadhan. Ibarat bonus games yang diberikan dalam waktu teramat singkat, pahala-pahala yang diumbar selama Ramadhan ini pun memiliki batas waktu. Maka, kita harus pandai-pandai memanfaatkan segala kemudahan yang diberikan untuk berburu pahala yang bertebaran di bulan penuh berkah ini. Bahkan hal terkecil seperti tersenyum tulus ke orang lain pun bernilai ibadah.

Yuk, kita semangat memperbanyak ibadah agar lebih dekat dengan sang Maha Pencipta, karena hanya kepadaNya lah sepatutnya kita berharap.

Selamat berburu pahala...

Bertemu Penulis Favorit di Gathering GPU 2013

0 comments
Aku mau bercerita tentang salah satu event yang aku ikuti bulan April 2013 lalu (lama ajaaa yaaa... hahaha).

Bermula dari info admin @fiksimetropop yang memberi tahu di twitter kalau ada gathering GPU yang GRATIS untuk umum, aku langsung meluncur ke link dimaksud. Begitu sampai di situs tujuan, ternyata seat-nya terbatas hanya untuk 200 pendaftar pertama. Beruntungnya aku masih dapat booking satu tiket untuk hadir di acara tersebut. Padahal, aku belum pernah ke gedung Kompas Gramedia sebelumnya. Yahh.. Nekad aja.. Toh sudah ada fasilitas umum seperti bus transJakarta yang menurutku rutenya mudah dipahami (kalau nyasar kan bisa tanya sama penjaga di haltenya, sekalian silaturahmi dehh.. hehe).

Acara gathering GPU ini merupakan acara temu penulis-pembaca yang pertama kali diadakan oleh Gramedia dalam rangka memperingati HUT ke-39 Gramedia. Ada sekitar 60-an penulis yang hadir, sehingga di acara tersebut juga diadakan sesi pembagian tanda tangan oleh para penulis.

temenku foto bareng AliaZalea, salah satu penulis favoritnya
 Nah temenku yang ada di foto itu ngangkut 30-an bukunya dari Ragunan ke Palmerah untuk ditanda tanganin penulis-penulis yang ada di acara tersebut. Hahaha.. niaaatttt....

Acaranya sendiri menurutku seru, mulai dari sesi bincang-bincang sama penulis, kuis yang banyak hadiahnya, pengumuman pemenang lomba menulis Amore, foto-foto sama penulis, bahkan kita juga sempet dihibur sama Vidi Aldiano yang yahh.. walaupun aku gak terlalu suka sama dia, tapi cukup menghibur lahhh..

Selain ada acara gathering itu, ternyata di Palmerah ada bazaar buku murah di lantai dasar gedung gramedia. Harganya pun teramat murah. Untuk buku tebal dihargai Rp. 5000/buku dan untuk buku tipis/komik dihargai Rp. 2500/buku. Haduhhh.. Bikin kalap banget dan pastinya menyiksa dompet yang emang jarang diisi uang banyak. Memang sih banyak buku yang udah gak disegel (tanpa plastik), tapi kondisinya rata-rata masih bagus dan layak. Jadi gak sia-sia lah kalo ngeborong buku di bazaar ini..

Semoga tahun depan Gramedia bersedia mengadakan acara serupa..

Selasa, 29 Januari 2013

Sepeda Merah Yahwari #1

0 comments

Dari awal terpajang rapi di salah satu rak toko buku langganan, aku sudah langsung tertarik untuk membeli buku ini. Apalagi penulisnya adalah Kim Dong Hwa yang juga membuat trilogi novel grafis favoritku: warna tanah, warna air, dan warna langit.

Di novel grafis ini, Kim Dong Hwa menceritakan beragam kisah di desa Yahwari melalui keseharian tukang pos bersepeda merah. Uniknya, di setiap surat yang ditujukan ke rumah-rumah di desa yahwari tidak menuliskan alamat rumah berdasarkan nomor rumah atau nama wilayah. Melainkan nama julukan untuk rumah yang dituju. Jadi setiap hari si tukang pos berkeliling mengantarkan surat ke rumah yang memiliki julukan, seperti:'rumah dengan semak-semak warna khaki', 'rumah bertepi bunga-bunga liar', 'rumah kuning dalam kehijauan', dan masih banyak lagi julukan yang lain.. Pertama kali si tukang pos mengantar surat, dia heran melihat beragam julukan itu..

Bukankah lebih sederhana jika menggunakan nomor? (hal12).
Hebatnya si tukang pos, walau alamat rumah-rumah itu membuat kepala pusing, dia tetap mengirimkan surat ke alamat tujuan. Di desa yahwari, si tukang pos punya rumah favorit dan setiap pagi dia selalu mencari apakah ada surat untuk si pemilik rumah.. *hehehe, buat alibi supaya bisa datang setiap hari ya pak?* *kira-kira, kenapa ya dia seneng banget ke rumah itu??*

Di desa Yahwari ada dua jalan yang terpisah oleh sungai dan dihubungkan oleh sebuah jembatan. Jalan Yetdong dan Jalan Sedong namanya. Dan selama lima hari di waktu tertentu, diadakan pasar di jembatan tersebut. Hanya di tempat itulah penduduk di kedua jalan bertemu. Pagi hari, penduduk Yetdong datang untuk menjual berbagai hasil bumi dan ternak. Sedangkan penduduk Sedong membawa banyak uang. Sore hari, sebaliknya.

Hemmm.. Hanya dengan melihat gambar pemandangan di desa Yahwari melalui goresan tangan Kim Dong Hwa ini rasanya seperti diajak pulang ke kampung halaman kedua orang tuaku di Sleman, Jogja. Suatu tempat dimana sawah-sawah menghijau,sungai bening mengalir dari mata air gunung, udara yang bersih, dan penduduk yang mayoritas simbah-simbah ramah dan murah senyum *mayoritas anak mudanya merantau ke kota besar*. Setiap ada anak-cucu datang dari Jakarta atau kota besar lain, para tetangga langsung berkumpul sambil membawa beragam buah tangan yang enak-enak, seperti: gethuk singkong gula merah yang ditaburi parutan kelapa muda, geplak, peyek bayam, selondhok, dan sebagainya *lap iler*. Sementara aku dan adikku rebutan gethuk singkong gula merah, para simbah rebutan menanyakan kabar kami selama jauh dari kampung halaman.

Setelah membaca cerita 'pagoda baru' atau cerita 'teman si pria tua', aku jadi mengerti sekarang mengapa para simbah itu antusias njagong mengobrol hingga larut malam dengan kami. Tentu mereka kesepian karena mayoritas anak-cucu merantau. Dan kala ada salah satu anak-cucu tetangga yang mudik, kesepian mereka akan sedikit terobati. Jadi disela-sela ngobrol santai itu, pasti terselip pertanyaan tentang kabar anak-cucu mereka yang juga merantau di Jakarta. Tak jarang pula, ketika kami kembali ke Jakarta, bawaan kami bertambah dua kali lipat karena kami berperan sebagai 'kurir' bagi anak-cucu para simbah yang juga tinggal di Jakarta.

Nenekku pun mungkin seperti para simbah itu juga, karena semua anaknya merantau di kota-kota besar. Apalagi putri tertuanya sekarang tinggal di Nabire, Papua. Di dinding rumah nenekku, terpajang berbagai foto anak-cucu dalam bingkai sederhana. Ada foto pernikahan, foto wisuda, foto sepupuku ketika bayi, bahkan ada fotoku ketika berulang tahun yang pertama *yeayy..aku sudah punya fans di usia 1 tahun*.

Buatku, membaca buku ini mampu membuatku kembali ke masa kecil kala liburan ke rumah nenek. Mengingat kenangan manis yang akan lekat hingga akhir hayat.

Rabu, 23 Januari 2013

Exciting Rafting

0 comments
Akhirnya kesampaian juga rafting di Sukabumi. Padahal kepengennya udah dari lama banget, tapi tiap kali nyari temen pasti ada aja kendalanya. Berawal dari keinginan menghadiri pernikahan salah satu sahabat di Sukabumi tahun 2012 lalu, muncullah ide rafting, karena letak antara tempat resepsi dan lokasi rafting yang 'cukup' dekat alias masih sama-sama sukabumi.. hehehe...

Dikarenakan banyak personil yang sibuk, rencana ke Sukabumi yang awalnya 3 hari 2 malam dipersingkat jadi 2 hari 1 malam *eh mirip2 sama acara ayang Lee Seung Gi di KBS deh*

Berangkat dari Ragunan 70 hari Jumat, jam setengah 10 malam *setelah nonton final bola antara Indonesia-Brunei DS* menggunakan 2 mobil avanza sewaan. Sampai di Sukabumi sudah lewat tengah malam, dan Alhamdulillah ada penginapan yang mau menampung kami... walau harus membangunkan petugas resepsionis tengah malam..

Sabtu pagi, kita semua sudah bersiap untuk menghadiri akad *akibat cuma tidur beberapa jam, pagi itu aku punya mata panda,, yah walau gak sekeren punya SeungRi*. Setelah prosesi akad dan resepsi selesai, kita langsung meluncur ke tempat rafting.. Yeayyy....

Di Sukabumi ini, kita rafting pake jasa arus liar dan sudah booking beberapa hari sebelumnya, jadi walau kita datang agak sore.. kita masih diperbolehkan main *dan kita adalah rombongan terakhir yang diperbolehkan rafting saat itu*





Sebelum memulai kegiatan, para instruktur memberi panduan singkat tentang bagaimana cara mendayung, cara penyelamatan awal kala terjatuh ke sungai, dan cara berpose di depan kamera *yang terakhir ini wajib didengarkan dengan baik*.  Dan setelah yakin semua tim paham, para instruktur pun mempersilahkan kami berangkat mengarungi arus sungai yang cukup deras.

Aku senang, karena akhirnya impianku setelah sekian lama terwujud dan lebih bahagia ketika dapat melakukannya bersama sahabat-sahabat baikku.. Jadi aku gak malu lagi ketika dengan noraknya teriak kegirangan saat melihat ada biawak di pinggir sungai, atau tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke anak-anak menonton dari atas jembatan...

Di akhir rafting, kami disuguhi es kelapa muda yang suegerrrr kala menunggu mobil jeep jemputan yang akan mengantarkan kami kembali ke basecamp untuk berganti pakaian dan makan malam.Menu makan malamnya pun spesial, ada nasi liwet hangat, sayur asem, ikan asin, sambal dan segelas teh hangat untuk meredakan dahaga.. Hmmmm.. Nikmat bangettt...

Jadi pengen rafting lagi dehhh.... Ada yang mau ikutan??



Playlist