Sabtu, 05 Juli 2014

Stasiun



Sejak kecil, aku selalu suka dengan segala hal yang berhubungan dengan kereta. Stasiun. Masinis. Peron. Gerbong. Bahkan porter. Mungkin asal mulanya karena aku pernah hampir lahir di dalam kereta. Hahaha...
Cerita yang akan selalu berulang setiap lebaran menjelang, karena kejadiannya ketika mau mudik lebaran. Jadi, si Mamah yang hamil 6 bulan kepingin banget pulang kampung buat silaturahmi sama keluarga di Jogja. Namun, karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, akhirnya Mamah sama Papah memutuskan untuk membeli tiket kereta api ekonomi untuk mudik. Ketika tiba harinya mudik, calon penumpang sudah berjubel di stasiun Senen dan naik keretanya rebutan. Hal ini disebabkan karena semua berlomba ingin memperoleh tempat duduk. Mamah bilang kalau banyak orang yang naik lewat jendela saking banyaknya penumpang yang rebutan masuk ke kereta. Entah bisa dibilang beruntung atau tidak, Mamah dan Papah berhasil naik ke kereta dan memperoleh tempat di dekat toilet. Mereka berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Mau duduk atau jongkok pun susah karena padatnya penumpang di dalam kereta. Yah, macam berada di commuter line atau trans jakarta saat jam sibuk berangkat atau pulang kantor. Mungkin karena padatnya penumpang sehingga oksigen di dalam gerbong minim, Mamah mengalami kontraksi. Perutnya mules tak tertahankan, padahal perjalanan belum ada separuhnya. Katanya, saking mulesnya Mamah sampai merasa kalau air ketubannya pecah. Beruntungnya, ada penumpang baik hati yang akhirnya mempersilahkan Mamah duduk melihat kondisi Mamah yang pucat pasi. Setelah bisa duduk, katanya kontraksi Mamah mereda. Aku pun gak jadi lahir di dalam kereta. Yeaayyyy... Yah, walaupun akhirnya aku lahir sebulan setelahnya di puskesmas..

Nah, ketika aku melihat ada novel berjudul 'Stasiun' di rak obralannya Gramedia, langsung deh kuambil. Sinopsisnya menarik, cover dan pembatas bukunya pun keren. Dengan harga IDR 10k, rasanya gak rugi-rugi banget kalo misalnya buku ini kurang bagus isinya. Di dalamnya pun terdapat cukup banyak ilustrasi keren.


Ini kisah tentang dua orang yang hidupnya saling bersisian di stasiun kereta dan dipertemukan pada suatu waktu. Penggambaran penulis tentang stasiun terasa nyata. Seolah aku juga berada disana menyaksikan kisah Adinda dan Ryan sembari makan roti cane yang dijajakan berkeliling. Aku selalu menyukai cara bercerita dari sudut pandang si cewek dan si cowok. Novel ini pun mengambil konsep seperti itu, tapi sayangnya aku gak menemukan adanya perbedaan apakah ini si cowok atau si cewek yang bercerita. Aku merasa kalau yang bercerita satu orang, hanya saja, si satu orang ini kadang menggunakan 'aku' kadang menggunakan 'saya'. Alurnya yang semakin mendekati akhir semakin cepat, membuatku sesak napas. Aku seperti dipaksa ikutan berlari mengiringi kisah mereka.

"Buku lama itu ibarat baju bekas di pasar. Dipandang sebelah mata. Orang akan lebih senang beli buku mahal ketimbang buku usang" (hal. 60)

Kalimat ini sedikit membuatku mengernyit.. ini si penulisnya belum kenal sama geng pemburu buku buluk kali yah? yang kalo ketemu buku buluk senengnya bukan kepalang. Justru saat ini, buku lama itu harganya lebih mahal daripada buku baru lirik harga tetralogi Pulau Buru.

Secara keseluruhan, aku suka ceritanya. Aku kasih 3 dari 5 bintang. Beruntungnya Adinda bisa bertemu jodohnya.. #ehcurcol *ngiri*

0 comments:

Posting Komentar

Playlist