Rabu, 13 Mei 2009

Sepenggal Kisah sebagai Renungan


Aku mo kasih copy-an kisah dari Ust.Yusuf Mansyur

Allah hadir memperingan beban manusia

Oleh : Ustadz Yusuf Mansyur

Kawan saya, N, mengadu dengan tawanya.

Maaf, bukan dengan keluhan, tapi dengan tawa. Tapi tawa satir. Dia ingin menjadi pendakwah. Ia ingin ada di jalan syiar. Tapi kebutuhan hidupnya membawanya menjadi karyawan. Sungguh pun saya beritahu beliau bahwa siapapun bisa menjadi pendakwah tanpa harus menjadi ustadz.

Cukup dengan sering mengajak orang berbuat baik, maka sudah cukup menjadi ustadz. Misalkan, ceritakan satu dua kisah sedekah, kisah mahabbah sama orang tua, kisah qiyaamullail, dll.

Manakala orang mendengarkan, maka itu sudah hidup di jalan dakwah.

Contohkan dengan menjadi muslim yang baik, shalat tepat waktu, dan ajak kawan-kawan yang laen, yang sekantor, maka kemudian insya Allah cara ini pun udah menjadikan dirinya menjadi pendakwah.

Tapi ya begitulah. Katanya ga bebas dengan sebab menjadi karyawan.

Suatu saat N ini ketemu saya lagi.

Dia cerita gajinya kecil sekali. Di bawah 1jt. Dia mengaku saban malam suka pulang malam. Sebab ngincer lemburan. 1 jam lembur dihargai 6rb. Dia izin sama istrinya untuk pulang malam. Dia cerita, itu pun tidak bisa memenuhi tambahan susu anaknya dengan normal.

Saya tanya, bagaimana ukuran normal? Katanya kalo normal harusnya 400-500rb > sebulan. Sedangkan dari lembur dia dapat hanya 200rb perbulan. Saya kasihan bener sama N ini. Dia ini kawan saya meniti jalan dakwah di Jatim.

Dari saya nol. Dari memulai dakwah. Kini di hadapan saya, ia sama dengan karyawan yang laen. Maaf kepada para karyawan. Maksud saya, jalan pikirannya sudah sama saja dengan karyawan yang laen. Saya tidak menemukan N yang dengan gagah menyeru shalat malam. N dulu pernah menyeru, bahwa rugi kita bertarung dengan dunia, dan bertaruh habis-habisan untuk dunia. Ia tidak bisa memberi apa-apa untuk kita. Sekalinya dapat, maka dunia sungguh tetap tidak akan menyisakan banyak buat pecintanya.

Tetap saja tidur seukuran kasur, makan seukuran perut, dan minum seukuran dahaga. Banyak kekayaan diberikan dunia hanya seukuran kertas.

Sore ini, N menangis. Ketika saya bilang, N, bukankah ilmu kita mengajarkan, biasa saja dengan dunia?

Kenapa pilih lembur dengan caranya lembur dunia?

Mengapa tidak pilih pulang saja sore-sore, supaya bisa ngumpul dengan anak istri? supaya bisa menimang anak memeluk istri?

supaya bisa jalan-jalan makan nasi goreng walo sepiring dimakan bertiga?

Pulang sore saja. Jangan pilih lembur yang malah membuat kita jauh dari anak istri.

Kita pulang, lelah sudah. Anak pun sudah tidur. Pagi-pagi, anak udah berangkat sekolah, istri pun sudah ke pasar. Untuk itukah kita hidup?

Untuk merekakah yang di perusahaan tempat kita bekerja, kita hidup?

Bukan kan? Harusnya untuk kita, untuk anak-anak, untuk istri, untuk orang tua, untuk keluarga, untuk senang-senang di dunia, dan untuk ibadah. Ini? Ga bisa. Habis hidup kita untuk kerja. N, begitu kata saya, coba hidup dengan 3rb di malam hari. dengan 3rb itu, N silahkan nyari tukang nasi goreng di pinggir jalan. Beli 1 bungkus. Gabungin dengan nasi putih di rumah. Niscaya itu cukup untuk makan bertiga dengan anak.

Daripada lembur cuma nyari 18rb untuk 3 jam, yang 18rb itupun ga bisa menambah apa-apa? N, di pagi hari, masak saja telur satu. Didadar tipis, supaya lebar. Lalu makan dengan nasi putih. Siapkan garam. supaya enak, makan pas sedang hangat-hangatnya. yang demikian, bukan krn pengen hemat. Tapi supaya N bisa menyisihkan untuk sedekah. Sedekah ini yang bisa ngantarkan N bisa jadi kaya. Bukan dengan cara jor-joran, tos-tosan, kerja sepanjang waktu. Apalagi N kerja dengan fisik bukan dengan otak.

N, siang hari, ajarkan diri untuk makan betul-betul seadanya. Ajarkan orang rumah, untuk mengencangkan ikat pinggang, makan dengan sangat-sangat biasa. Saya bertaruh, paling 6bl-an N melaksanakan ini. tp uang dari hasil pengetatan ini, bukan untuk ditabung. Sekali lagi, untuk sedekah. 6 bulan N sedekah berturut-turut, maka ini akan mengantarkan perubahan yang signifikan di bulan ke-7. N, ketimbang lembur yang akhirnya di hari minggu pun terenggut untuk istirahat total, sebab sabtunya pun diambil lembur, mendingan lembur buat Allah. N pulang sore saja. Lalu sama-sama istri shalat maghrib berjamaah. Teruskan sampe isya. Habis isya makan malam bersama, dan nontonlah TV yang baik dilihat tayangannya. Paling telat, jam 9 N tidur. supaya apa?

Supaya N bisa lembur dengan Allah. supaya N bisa tahajjud. Bila N bisa melakukan tahajjud ini, maka perubahan akan terasa dlm wkt kurang dari 6bl. Coba, kalo lembur, apa yang N dapat?

10 tahun pun tidak akan membawa perubahan apa-apa.

Paling naik gaji hanya 200-300 setiap tahunnya malah bisa jadi malah kurang itu. Wuh, cape. N, kalo pola hidup yang kita ubah, yaitu jd pola ibadah, N malah akan menemukan N bisa bersedekah. N pasti akan bisa tertawa. N yang gajinya rendahan, malah bisa bersedekah. N, ubahlah hidup bersama Allah. Coba jelajahi program riyadhah di website saya.

Begitu saya bilang. Itu kan ilmu sederhana. Ilmu yang cuma ngejaga shalat dhuha 4-6 rakaat.

Ilmu yang cuma menjaga shalat wajib tepat waktu. Ilmu yang cuma menjaga shalat qabliyah ba'diyah, baca qur'an, zikir-zikir sederhana, dan shalat malam. Tapi sesuatu yang saya sebut "cuma" itu, hasilnya sungguh luar biasa dlm membawa perubahan ke kondisi yang N inginkan. Kalo mau lembur, maka berusahalah sekuat tenaga melakukan lembur yang model begini. Bukan lembur habis-habisan dengan bekerja ga keruan.

Shalat jadi kedodoran, sedekah jadi engga ada, zikir jadi kurang, qur'an jadi jauh. Allah menciptakan dunia agar kita tidak menjadi budaknya dunia. Tapi menjadi pemenang di atas dunia yang menggenggam dunia tanpa menjadi budak dunia. N, hiduplah bersama Allah. Ubahlah kebiasaan hidup.

Fokus pada ibadah. Jadikan kerja, ya kerja. Dan jadikan kerja yang "kerja" itu pun ibadah. Caranya, dengan benar-benar mengendalikan pekerjaan agar tidak mengganggu waktu-waktu ibadah wajib dan hubungan dengan anak istri. Ajaklah serta anak istri menuju perubahan itu. Ajak semuanya mendekatkan diri kepada Allah. Insya Allah dunia akan Allah dekatkan. Saya kemudian mendapati N menangis. Dia lalu bilang bahwa hidupnya kini pun sudah mulai banyak hutang. Saya kemudian bilang, ya, hutang itupun akan dihapuskan Allah. Coba giatkan semua yang saya beritahu. Ayo sama-sama kita mendekatkan diri kepada Allah

Cerita dari Ust. Yusuf Mansyur ini menurutku hampir mirip sama keadaan yang kualamin. Aku juga sempet ngalamin dilema, dimana pekerjaanku begitu menyita waktu sampe2 waktuku untuk lebih mendekatkan diri ke Allah jadi berkurang. Aku jadi merasa menyesal banget... Iya tuh, bener apa yang dibilang Ust. Yusuf Mansyur itu, bahwa jadikan kerja sebagai ibadah dengan tidak mengganggu waktuku untuk beribadah dan mendekatkan diriku padaNya. Semoga aku tetep jadi orang yang selalu mensyukuri nikmat dan anugerah yang diberikan olehNya...

-penyesalan selalu datang terlambat-

0 comments:

Posting Komentar

Playlist