Rabu, 07 Maret 2018

Short Escape to Singapore Part 2

0 comments
Our favorite character: MORT 💛
Bisa dibilang kami cukup beruntung, walaupun ke USS saat weekend, antrian di hampir semua wahana terbilang cukup sepi. Kami pun mencoba semua wahana yang gak perlu menitipkan tas di loker (soalnya kalau lewat dari 40 menit, lokernya jadi berbayar... ahahaha). Sempat berniat untuk nonton waterworld show di jam 1, eh rupanya kami keasikan naik wahana di Madagascar yang sepi banget sampai-sampai lupa untuk balik ke lokasi show berada. Lalu, kami terpesona sama merchandise yang dijual disana.. terutama si Mort. Imutnya maksimal sih...

Setelah puas main di USS, rasa lapar pun menyerang. Kami memutuskan untuk keluar USS dan makan siang di Vivo City. Berdasarkan beberapa referensi, di Vivo City ada foodcourt yang menyediakan makanan halal. Di foodcourt-nya Vivo City ternyata ada beberapa gerai yang memang sudah memiliki sertifikat halal. Kami memilih seporsi hainan chicken rice di gerai Kopitiam, harganya sekitar 5,5 SGD. Lumayan banyak porsinya, dan kuah kaldunya enak bangeeeeet. Selesai makan, adekku bilang kalau temennya ngeborong cokelat di Vivo City. Karena kami anak kepo penasaran, akhirnya kami mendatangi toko cokelat dan ngecek harga disana.


Varian nutella cukup komplit (tim nutella) di Vivo City, tapi kami pikir nanti aja belinya di dekat penginapan biar ga bawa banyak tentengan. Rupanya, setelah kami mengunjungi beberapa tempat yang ada toko cokelatnya, harga di Vivo City-lah yang termurah (tuh kaaaan nyeseeeel).

Tujuan berikutnya, kami berencana untuk ke Chinatown dan Merlion Park. Rute terbaik sebenarnya adalah Sentosa Island - Chinatown - Merlion Park jika naik MRT. Namun, karena kami kepengen foto sama si singa-nya masih ada matahari, maka rute kami adalah Sentosa Island - Merlion Park - Chinatown. Gak patut ditiru nih.. soalnya jadi bolak balik dan bikin kaki pegel (ojek manaaa ojeeeeek). Foto sama merlionnya cuma beberapa menit, jalan kesananya bermenit-menit. Hahahaha...

Tadaaaa... pasarnya pas di pintu keluar MRT
Di area Chinatown terdapat Masjid Chulia yang kabarnya merupakan salah satu masjid tertua di Singapura. Lokasinya mudah dijangkau dari pintu keluar MRT. Kemudian, buat yang suka belanja, mungkin area Chinatown ini merupakan destinasi yang sesuai. Soalnya, beragam suvenir khas Singapura dijual disini dengan harga cukup murah. 

mirip hiasan buat taman
Saat aku lagi fokus liat-liat gantungan kunci, tiba-tiba disodorin kamera DSLR gitu sama mas-mas sambil bilang "foto dong". Emang dasarnya kelamaan tinggal di Jakarta kali ya, aku bawaannya curiga dan langsung menggeleng sambil menolak untuk difoto (yaelaaah ge er banget mbaaa). Biasanya kan klo di Jakarta, apalagi di lokasi wisata, kalau kita disodorin kamera artinya dia nawarin jasa untuk fotoin. Ya kaaaaan? (iyain aja dong pliss). Nah, rupanya aku salah paham. Mas-nya ini minta tolong difotoin. Yaaaa.. Mas-nya siiih gak pake basa basi minta tolong difotoin, main sodorin kamera aja.

Di Chinatown ini, selain toko-toko suvenir, banyak juga toko-toko makanan. Ada yang jual makanan halal juga. Gampang kok nandainnya, toko yang jual makanan halal pasti masang semacam sertifikat halal gitu, entah di gerobaknya atau di dinding tokonya. Berhubung kami masih kenyang, gak ada satupun makanan yang ingin kami coba. Eh, kecuali satu ding.. Chili Crab yang katanya salah satu makanan khas-nya Singapura. Tapi, ukuran kepitingnya super gede dan kami gak yakin bisa ngabisin berdua. 
kusukaaa desain bangunannyaaa 💚
Saat lewat di depan sevel, eh ada tumpukan A*qua botolan yang menggoda kerongkongan. Waktu si adek mulai ngitungin ke kurs rupiah, dia kutegur. Jangan sekali-kali ngitung ke rupiah yaa, bisa-bisa gak jadi beli minum nih. Atas dasar rindu kampung halaman dan produk lokal, akhirnya kebeli lah sebotol air mineral dingin 600 ml yang gak akan pernah aku hitung ke kurs rupiah. Tegukan demi tegukan terasa familiar banget, menggantikan rasa air tap water yang sampai beberapa jam sebelumnya setia menuntaskan rasa hausku. Kalau udah begini, langsung deh kangen balik ke Jakarta... Hahahaha baper amat yak..
Waktu di bandara mau pulang ke Jakarta, kami sering berpapasan dengan orang-orang yang menenteng plastik kuning besar berlogo IRVINS. Dasarnya kami berdua anak kepo penasaran, akhirnya ikutan aja ngantri di booth-nya tanpa tau apa yang dijual. Absurd banget lah. Kirain tuh jualan kaos dan tote bag motif duck face gitu. Rupanya, si kaos dan tote bag hanyalah merchandise dari si tokoh utama : keripik kentang/kulit ikan berbumbu bubuk telur asin. Naaaah... sampai di depan kasir aku cuma melongo. Adekku langsung mengambil alih dan memesan dua bungkus terkecil demi menuntaskan rasa penasaran. Rasanya?? ya coba aja bayangin ngunyah kulit ikan tipis yang diolah jadi mirip kerupuk lalu dibumbui serbuk yang rasanya mirip kuning telur asin. Kami sih doyan dan malah nyesel kenapa cuma beli dua bungkus... Hahahaha..

Selasa, 06 Maret 2018

Short Escape to Singapore Part 1

0 comments
Aku dan adekku sudah berniat untuk liburan ke Singapura di akhir tahun 2017 lalu untuk merayakan proses keberhasilan kami bikin e-paspor. Tapiii.... sebulan sebelum keberangkatan, aku kena radang telinga akut sehingga aku gak boleh naik pesawat sampai telinga-nya sembuh. Boleh sih naik pesawat, tapi risiko ditanggung sendiri. Dan rupanyaaa untuk sembuh butuh waktu lebih dari sebulan. Akhirnya, batal lah itu trip liburan ke Singapura. lalu, awal 2018 saat kondisi telingaku membaik, iseng lah aku cek tiket pesawat ke Singapura. Tetep dong kekeuh pengen ke Singapura, soalnya aku masih penasaran karena belum pernah main ke Universal Studio Singapura. Setelah kroscek sana sini, rupanya seminggu setelah imlek itulah tiket ke Singapura lagi murah-murahnya. Adekku pun bilang kalau sidang skripsinya bakal kelar di awal Februari. Lalu, rencana ke Singapura yang batal itu akhirnya muncul lagi.

lucu yaa maskotnya Asian Games 2018
Dua minggu sebelum keberangkatan, aku baru mulai bikin itinerary, browsing dan tanya sana-sini terkait transportasi dan penginapan. Soal transportasi, aku mulai membandingkan mana yang lebih hemat antara pakai EZ-Link atau Singapore Tourist Pass disesuaikan dengan rencana trip 3D2N.  Untuk penginapan, pastinya bakal pilih hostel yang dekat dengan tempat jajanan. Intinya siy, mau liburan tapi versi hematnya supaya bisa jajan di USS.. hahaha.. Dalam proses beli tiket USS pun aku sempat galau, apakah beli langsung di lokasi atau beli online kayak waktu beli tiket USJ. Untuk beli tiket online, ada beberapa agen tur yang menawarkan harga lebih murah dibanding situs resminya USS. Jadi, harga publish rate dari situs resmi USS adalah 76 SGD per orang dan kalau beli dua, dapat bonus kartu EZ-Link (ujung-ujungnya cari bonusan..hahaha). Sedangkan di agen tur biasanya menawarkan sekitar 74 SGD. Kalau beli via online gitu, rupanya perlu pakai kartu kredit (yaiyalah yaaa.. masa pakai daun, emang situ kuntilanak?). Dan karena aku ga punya kartu kredit, akhirnya aku pasrah beli langsung tiketnya di lokasi.

Lalu, aku agak khawatir karena ini trip perdana si adek ke luar negeri (banyak banget yaa buk kekhawatirannya). Jadi, jauh-jauh hari sebelum berangkat aku udah sering ngasih tau ke dia apa yang boleh dan ga boleh dibawa ke kabin. Apa yang mesti dilakuin saat lewat konter imigrasi, lalu ngescan dan print semua dokumen perjalanan terkait. Hari keberangkatan pun tiba. Kami diantarkan ke Kampung Rambutan untuk nantinya naik Damri ke Bandara. Sampai di bandara, rupanya kami tiba terlalu cepat. Akhirnya kami iseng keliling bandara dan ketemu sama maskotnya Asian Games 2018. Sampai suatu ketika lewatin konter imigrasi, adekku ketahan agak lama disana. Ternyata, petugasnya nanyain apakah si adek punya tiket balik ke Jakarta (petugasnya ngira dia masih anak sekolah yang pergi sendirian ke luar negeri). Si adek lalu mengeluarkan semua dokumen yang sudah aku berikan ke dia, seperti itinerary, tiket PP, dan bukti booking penginapan.

Sembari menanti kedatangan pesawat, aku dan adekku keliling mencari tap water untuk mengisi tumbler. Lalu di sepanjang perjalanan, kami melihat setiap APAR digambarin doodle-nya beda-beda gitu. Keren-keren hasilnya.



Sesampainya di Singapura, aku dan adekku bertemu petugas imigrasi yang ramah. Kekhawatiran akan digiring ke ruang isolasi pun sirna (padahal kalau baca di blog orang tuh, katanya sering ada random check buat dibawa ke ruang isolasi). Lalu, pas banget setelah gate keluar imigrasi ada booth yang menawarkan tiket USS seharga 70 SGD. Ya ampuuuun... selisihnya lumayan jauh dengan harga asli kalau beli langsung di lokasi. Ya kan lumayan hemat 6 SGD bisa buat jajan chili crab. Hahahaha... Aku sempet curiga sama penjaga booth-nya, makanya setelah beli tiket, aku minta diprint-kan struk pembeliannya. Jaga-jaga tiketnya ditolak buat masuk USS.

Tujuan berikutnya adalah beli kartu transportasi. Lagi-lagi ketemu petugas yang ramah. Dia dengan sabarnya menjelaskan perbedaan EZ Link dan Singapore Tourist Pass. Jadi, awal mulanya aku sempet salah persepsi soal Singapore Tourist Pass ini. Dan setelah dihitung-hitung disesuaikan dengan itinerary, lebih muraaaaaaah dan hemat kalau pakai EZ Link.

Atas rekomendasi temen, kami menginap di area Bugis yang kabarnya banyak makanan halal (penting!!) dan kemudahan akses untuk ke mesjid. Sebelum berangkat, mamah sama papah wanti-wanti supaya menginap di area yang ada mesjidnya biar gampang untuk ibadah. Ya karena itulah kami menamakan tema perjalanan ini jadi backpacker syariah.. Hahahaha.

komentar adek: ini mah hotel rasa kos-kosan
(yakaliiii)
Penginapan yang kami pilih di area Bugis adalah Five Stones Hostel dan kami memilih tipe private room, jadi ga berbagi kamar dengan tamu lain. Beruntungnya aku jalan sama si adek, karena dia jago baca peta dan arah. Beda banget sama mbaknya yang sering nyasar padahal lokasi tujuan ada di depan mata. Perjalanan ke penginapan pun lancar tanpa ada insiden kesasar. Lokasi penginapan kami strategis banget karena dekat dengan area turis dan banyak makanan halal dan ada mesjid besar pula disana... Yeaayyy... Niatnya setelah check in dan istirahat sebentar, kami mencari makan malam di sekitaran penginapan. Tapiiiii.. kami malah bablas tidur sampe pagi dan batal untuk keluar cari makan malam. Alhasil, paginya laper berat. Sarapan yang disediakan oleh Five Stones Hostel cukup mengenyangkan buat kami, walaupun menunya simpel banget, macam roti tawar, selai (ada selai Nutella!!), sereal, kopi, susu, dan teh. Setelah kenyang sarapan, kami membawa beberapa tangkup untuk bekal, jaga-jaga gak nemu makanan halal.

Untuk menuju Sentosa Island (tempat USS berada), dari Bugis kami harus ke Vivo City dulu. Dari Vivo City, ada banyak pilihan transportasi, mulai dari jalan kaki, naik bus, naik monorel, atau naik cable car. Bebas mau pilih yang mana disesuaikan budget masing-masing. Sebagai pecinta dunia perkeretaan, aku dan adekku memilih untuk naik monorel. Salah satu keunggulannya punya EZ Link, untuk naik monorel ke Sentosa Island tinggal nge-tap aja tanpa perlu beli tiket lagi di Vivo City. Harganya 4 SGD dan bisa bolak-balik sepuasnya naik monorel.

fotoin dooong pake talenan
Kami sampai di USS jam 9 pagi, dan gerbangnya masih ditutup. Bahkan kami bareng beberapa pegawai USS saat naik monorel. Sembari menunggu, akhirnya kami ikutan jadi jamaah mainstream yang wajib foto di depan bola Universal yang termasyhur itu. Tiba-tiba, si adek disodorin iPad oleh seorang bapak. Kiraiiiiin si bapak itu mau ngasih iPad, rupanya minta tolong fotoin (udah bahagia ajaa ngarep dikasih iPad gratisan). Kelar foto-foto, antrian di depan gerbang mulai panjang. Kami pun memutuskan ikut mengantri masuk. Rupanya, di USS ini ga boleh bawa makanan dari luar. Apa kabar roti yang bekel dari hostel??? Jam 10 tepat, gerbang dibuka dan tiket yang kami beli di bandara ternyata tiket asli.. Horeee.. gak perlu ada drama nangis guling-guling depan gerbang.



... bersambung ke Short Escape to Singapore part 2... (macam drama ajaa ini blog)

Minggu, 09 April 2017

Ohayou Japan!!

0 comments
Bermula mengandalkan tiket promo dari GATF 2016, aku akhirnya bisa menjejakkan kaki di Jepang bulan Maret 2017. Yeaaaay... Bahagia, walaupun persiapan setahunnya (terutama soal keuangan) terasa berat banget, karena ada banyak yang dikorbanin demi bisa berhemat menabung ke Jepang. Dalam persiapannya, banyak rintangan yang mesti dilalui. Termasuk soal kerjaan di kantor. Berdasarkan kalkulasi pekerjaan di tahun 2015 dan awal 2016, maka aku pun berhati-hati banget saat memilih tanggal liburan. Yang jelas, bulan April is a big NO! selain karena banyak acara terkait ultah kantor, kerjaan pun mulai padat. Sedangkan Januari sampai dengan Maret, beban kerjaan masih sedikit. Dengan berbagai pertimbangan, dipilihlah tanggal 20 s.d 30 Maret 2017. Asumsinya, audit udah kelar dan tugas-tugasku sudah bisa selesai di awal Maret.

Rabu, 03 Agustus 2016

Akhirnya ke GATF juga

0 comments
Beberapa tahun diadakan GATF alias Garuda Airlines Travel Fair, aku selalu malas untuk datang. Alasannya ya karena harga tiket yang dijual saat pameran belum tentu lebih murah dari maskapai LCC (yaiyalah!!). Tapi.. setelah belajar dari pengalaman Januari lalu saat ke Beijing pakai maskapai LCC, aku jadi berpikir ulang. Bukan karena kapok akan lamanya transit ataupun ga dapet makan selama perjalanan. Absolutely bukan. Dua hal itu sih masih bisa kutahan. Waktu transit yang lama sih bisa diakalin dengan cari lounge trus bobok canciiik. Begitu pula soal masalah gak dapet makanan di pesawat, bisa diakalin dengan bawa cemilan dan tentu aja bobok kalem selama perjalanan. Syukurlah aku dianugerahi bakat bisa tidur dimana pun dalam kondisi apapun. Yeahhh..

Hal yang membuatku berpikir ulang pakai maskapai LCC adalah ribetnya urus bagasi.

Minggu, 24 Januari 2016

THE NAKED TRAVELER ANTHOLOGY: HOROR (10 TRAVELER, 11 KISAH MENCEKAM)

0 comments
Penerbit: B First (PT Bentang Pustaka)
Penulis: Trinity dkk
Tahun terbit: Sept 2015
Jumlah halaman: 184 hlm; 20.5 cm
Genre: Misteri, Travelling


Buku ini merupakan kumpulan kisah horor yang dialami para penulisnya. Beberapa cerita yang ada didalamnya tidak terlalu seram menurutku, namun memang ada satu-dua cerita yang sukses membuat merinding. Khususnya cerita tentang penginapan yang ‘angker’ dan wajah tak kasat mata yang tertangkap kamera. Mungkin karena aku pun mengalami hal yang serupa.

Jumat, 22 Januari 2016

Melawan Angin di Great Wall pintu Badaling

3 comments
Great Wall Gate at Badaling
Senin, 10 Januari 2016, aku dan kedua rekanku berencana untuk mengunjungi Great Wall of China yang tersohor itu. Setelah browsing sana-sini, ditemukanlah gate termudah untuk mencapai Tembok Cina, yaitu di daerah Badaling. Berdasarkan informasi, area-nya mudah dijangkau oleh turis yang ingin berkunjung ke Tembok Cina secara mandiri alias gak pake jasa tur. Biasanya gate ini diakses oleh penduduk lokal yang mau berkunjung ke Great Wall. Untuk ke Badaling, ada dua tipe transportasi umum yang dapat digunakan, yaitu kereta dan bus. Bisa pilih salah satu atau gabungan keduanya, maksudnya berangkat naik bus pulangnya naik kereta atau sebaliknya.

Minggu, 17 Januari 2016

Visa China, Mudah Gak Sih?

0 comments
"tuntutlah ilmu sampai ke negeri China"
Pernah dengar pepatah seperti itu? Aku pernah. Walaupun sampai sekarang, aku masih belum paham kenapa ilmu harus dituntut bukannya dipelajari, dipahami, dan dipraktekkan. Laahh.. jadi ngelantur.. Singkatnya, aku belum sampai pada tahap punya niatan menuntut ilmu sampai ke China, kalo menuntut ilmu ke Korsel sih iya *eh malah curhat*. Tapi, aku sudah berniat untuk mengunjungi negara super besar itu suatu saat. Nah, gayung bersambut, di bulan Januari 2016, aku memperoleh undangan arisan berkunjung ke Beijing, tempat salah seorang sahabatku menjalani program pascasarjana bersama suaminya.

Kamis, 05 November 2015

Kelas Inspirasi: Inspirasi Satu Hari Profesi Anak Negeri

0 comments
duduk manis karena mau difoto ^^



















Semua bermula dari ajakan sahabatku untuk ikutan Kelas Inspirasi. Dia sudah mendaftar terlebih dahulu saat ada pameran komunitas di Bogor. Sedangkan aku, baru mendaftar beberapa hari setelahnya melalui website Kelas Inspirasi. Awalnya, sih, aku sempat ragu, apakah aku mampu untuk berdiri di depan puluhan siswa SD dan menjelaskan profesiku.

Senin, 05 Oktober 2015

Daehan Minguk Manse : Balita Kembar Tiga dari Korea Selatan yang Memikat Hati

0 comments

Demam kekoreaan ternyata masih hits di kalangan masyarakat muda Indonesia. Namun, kini trend-nya sudah jauh berkembang, tidak hanya K-Pop, namun juga merambah ke K-Food dan K-Broadcast. Untuk K-Broadcast sendiri, bisa terlihat dari banyaknya fanbase (komunitas fans) dari beragam variety show Korea, macam Running Man Indo, DMM Indonesia Fans Club, 1N2D indo, dan sebagainya.

Jumat, 02 Oktober 2015

Menikmati Sajian 4-K di Korea Festival 2015

0 comments
Tanggal 1 Oktober, yang sejatinya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, juga menjadi tanggal dibukanya kegiatan Korea Festival yang diselenggarakan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Berhubung aku sedang memperoleh off-day, aku memutuskan untuk ikut hadir di pembukaan Korea Festival. Sebab, dari informasi yang kuperoleh di SNS-nya Korean Cultural Center Indonesia (KCCI), akan ada beragam performance yang menarik. Bayangin aja, di iklannya, ada 8 pertunjukan gratis dalam satu hari. Yeaaah.. event gratisan mah sayang kalau dilewatkan begitu saja.

salah satu performance dari Drum Cat

Fiksi Lotus : Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia Vol.1

0 comments
Di sebuah area obralan toko buku, ada satu buku yang menarik perhatianku. Bukan karena harganya yang murah (IDR 10.000), namun karena buku ini merupakan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) klasik dunia. Huaaaaah.. tanpa pikir panjang, aku langsung ambil buku itu dan dibawa ke kasir. Dari yang niatnya cuma liat-liat obralan tanpa beli buku (ummm.. di obralan buku, niat cuma liat-liat tanpa belanja gak pernah terealisasi juga sih), akhirnya aku beli satu eksemplar buku ini dan langsung jatuh cinta.

Rabu, 26 Agustus 2015

Korea Day 6 : Menyusuri area Ewha Womans University

0 comments
TIC booth
subway line 2 (warna hijau)
Kalau punya banyak waktu luang dan mau cari suvenir unyu ala Korea, bisa berjalan-jalan di area Ewha University. Kalau naik subway, bisa turun di stasiun Ewha Womans University (subway line 2 exit 2 atau exit 3). Di dekat pintu keluar subway, ada booth TIC (Tourist Information Center) yang juga 'kantor' bagi polisi wisata Korea. Polisi wisata ini bisa 4 bahasa, Korea, Inggris, Mandarin, Jepang. Jadi, jangan khawatir tersesat ya. Rasanya nyaman berjalan-jalan di area Ewha ini, apalagi cuacanya hangat, khas musim semi yang menyambut musim panas.

trotoar EWU
Trotoar di kiri dan kanan jalan sangat lebar, jadi walaupun ada gerobak pedagang macam punya mamang-mamang PKL di trotoar, tidak akan mengganggu para pejalan kaki. Nah, di kiri dan kanan jalan, banyak toko-toko unyu nan lucu yang minta dihampiri. Pengunjung tinggal pilih, mau ke toko bunga, toko sepatu, toko aksesoris, dan sebagainya.

Tapi, kalau mau cari barang dengan harga lebih murah, bisa masuk ke salah satu lorong gang. Tokonya lebih banyak dan pilihan barangnya pun lebih beragam dengan harga yang murah meriah.

Nah,atas rekomendasi salah seorang rekan, aku lebih tertarik untuk menyusuri gang kecil di EWU. Ternyata memang benar, isinya hanya toko-toko.


Sepatu-sepatu cantik berbahan kanvas dihargai 9900 won. Dibandingkan dengan harga merk sepatu jepang yang sedang kekinian di Jakarta, harga 9900 won ini tentu sangat murah. Baju dan tas korea yang biasanya dijumpai di online shop, bisa dilihat langsung aslinya dan dengan harga yang lebih murah. Untuk pakaian, harga paling murah 5000 won. Sedangkan untuk tas, harga paling murah 8000 won.

Salah satu barang dagangan yang menarik perhatianku adalah barang dengan wajah kucing yang imut. Ternyata, wajah-wajah itu adalah desain tas. Bisa jadi dompet atau tas selempang kecil. Per item-nya dihargai 3900 won.

Selain di toko, bisa juga membeli aksesoris di Ahjumma pinggir jalan. Barangnya gak kalah unyu dengan yang di toko. Kalau jam yang lucu dan imut ini dihargai 10000 won. Wah, rasanya jadi kepingin beli semua deh. 

Nah, kalau lapar saat berjalan-jalan, bisa beli jajanan di Ahjumma penjual takoyaki.


Malam terakhir di Korea, aku sempatkan main ke ruangan Mary, sang pemilik Hongdae Guesthouse hostel untuk mengucapkan terima kasih atas keramahan dan pelayanan yang memuaskan. Mary yang ceria dan Changmin yang cool membuat hari-hariku menginap di hostel terasa menyenangkan. Kamsahamnida yaaa..

Kamis, 20 Agustus 2015

Korea Day 5 : Mengenal Hanok Village dan Insadong

0 comments
Pagi hari yang mendung dan sedikit gerimis, mewarnai hari kelimaku di negeri ginseng. Di luar hostel, angin berhembus cukup kencang. Aku buru-buru menuju stasiun subway untuk menghindari serbuan angin. Di dalam stasiun, udaranya cukup hangat. Lokasi pertama yang dituju adalah Everland, taman hiburan terbesar di Korea. Letaknya ada di luar kota Seoul.
gerbang everland
Lagi-lagi, aku menggunakan subway untuk menuju ke luar kota Seoul. Peta subway bisa dilihat disini.

Kamis, 13 Agustus 2015

Korea Day 4 : Pesona Nami Island dan Petit France

0 comments
Memasuki hari ke-empat di Korea Selatan, aku berencana untuk mengunjungi Nami Island. Nami Island sendiri merupakan sebuah tempat wisata yang menjadi terkenal sejak drama korea Winter Sonata meraih popularitas di seluruh dunia. Aku sendiri bukan penggemar drama itu, jadi bukan karena dramanya melainkan karena promosinya di situs KTO. Dari fotonya, terlihat pepohonan cantik berbaris di sisi kanan-kiri jalan, tempat yang pas untuk foto narsis pemandangan.

Selamat datang ke Nami Island

Setelah melihat di peta, ternyata lokasi Nami Island itu di luar kota Seoul.

Selasa, 11 Agustus 2015

Bibimbap, Nasi Campur ala Korea

0 comments
Nasi campur....
Setiap kali dua kata itu muncul bersamaan, entah kenapa selalu berhasil membawaku ke suatu masa yang pahit untuk dirasakan namun manis untuk dikenang (uhuuuuk). Sebab, pertama kali bertemu dengan nasi campur adalah saat masa ospek program pengenalan mahasiswa baru (PPMB). Kala itu, nasi campur merupakan salah satu primadona-nya PPMB. Kalau dilihat dari bahan-bahan yang digunakan, sih, sangat menggugah selera. Makanan pokoknya itu nasi pakai gulai nangka dengan lauk ayam goreng. Selain itu ada buah jeruk, sirup sarangsari, dan susu cokelat. Hmm.. terlihat nikmat kalau makannya di restoran padang dengan segelas es jeruk. 

Tapi.. yang membuat nasi campur ini kurang menggugah selera adalah pencampuran semua bahan makanan ini ke dalam sebuah ember. Termasuk di dalamnya ada buah jeruk, sirup, dan susu. Gimana gak bikin mual..

Nah, karena pengalaman itulah aku kurang tertarik mencoba bibimbap. Karena walaupun awalnya terlihat menarik, tapi tetap akhirnya bercampur jadi satu dan membentuk suatu wujud yang absurd untuk dideskripsikan. Padahal, setiap kali main ke restoran korea, salah satu menu khas yang ditawarkan mba/mas pelayan adalah Bibimbap. Isinya komplit; ada nasi, sayuran, lauk, dan bumbu khas korea (macam gochujang, doenjang, ssamjang, dan -jang lainnya).

bibimbap
Baru ketika aku berkunjung ke negara asalnya, aku penasaran dengan bibimbap ini. Namun, sejauh aku mencari, sulit menemukan restoran bibimbap yang halal. Karena biasanya, restoran itu juga menjual menu babi yang jelas-jelas haram untuk kumakan.

Tetapi, saat aku berada di Nami Island, ada restoran halal yang menyajikan menu bibimbap. Memang, sih, agak berbeda dari bibimbap yang ada di restoran biasa karena hanya menyajikan bahan-bahan yang halal. Aku sendiri memilih Octopus Bibimbap, yaitu bibimbap dengan lauk octopus alias gurita. Guritanya sendiri sudah dimasak dengan matang, bukan gurita hidup macam sannakji (gurita hidup). Makanan pendampingnya, berupa varian kimchi. Berbeda dari jenis kimchi kubis yang sering aku makan di restoran korea di Indonesia. Ada yang rasa manis, ada yang rasa asin, ada yang rasa masa lalu gurih. Aku sendiri menyukai semuanya. Hehehe..

octopus bibimbap
side dish
Rasa bibimbapnya cenderung manis pedas. Octopus bibimbap yang aku pesan berisi gurita yang sudah dibumbui, suwiran rumput laut, potongan selada, irisan bawang bombay, dan nasi. Tekstur guritanya kenyal-kenyal gitu. Aku yang belum terbiasa makan gurita, jadi kurang menikmati sensasi gigitannya.

Nah, setelah mencoba bibimbap ini, aku mulai bisa makan nasi campur. Tapi, tetap saja, menu yang dicampur gak ngasal macam PPMB dahulu. Untuk yang mau mencoba, saat ini banyak dijual bumbu khas korea di supermarket besar atau supermarket korea. Aku, sih, masih belum sreg kalau mencampur nasi menggunakan bumbu korea. Biasanya, aku mencampur nasi menggunakan sambal cabe goreng khas buatan mamah atau sambal terasi, yang gak kalah enak dengan bumbu korea.

Selasa, 04 Agustus 2015

Korea Day 3 : Uji Nyali di Daerah Perbatasan

0 comments
End of Separation, Beginning of Unification
Hingga saat ini, semenanjung Korea terbagi menjadi dua negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. Hubungan politik diantara kedua negara pun kurang harmonis dikarenakan perbedaan ideologi yang dianut. Oleh karena itu, perbatasan antara kedua negara ini dijaga ketat oleh militer masing-masing. Lokasi perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara memiliki pemandangan yang indah dan dipergunakan sebagai suaka margasatwa bagi hewan-hewan yang dilindungi. Kabarnya, lokasi perbatasan tersebut dapat dikunjungi oleh turis.

Minggu, 05 Juli 2015

Korea Day 2 : Wisata Sejarah di Royal Culture Festival

0 comments
brosur Festival
Hari kedua di Seoul tanggal 9 Mei, aku dan rekanku memutuskan untuk ikut acara Royal Culture Festival yang bertema "Today We Meet The Palace". Acara ini diadakan oleh Pemerintah Korea. Festivalnya sendiri dimulai dari tanggal 2 Mei sampai dengan 10 Mei 2015. Informasi adanya festival kudapatkan dari situs KTO (Korea Tourism Organization). Dan info event-nya sendiri aku dapatkan disini. Situs itu amat sangat membantu dalam persiapan keberangkatanku ke Korea Selatan.
Dari situs KTO, aku memperoleh banyak sekali kupon diskonan dan potongan harga, salah satunya potongan diskon jika menggunakan Seoul City Tour Bus.

Selasa, 30 Juni 2015

Korea Day 1: Keliling Seoul Saat Parent's Day

0 comments

Aku tiba di Korea Selatan bertepatan dengan peringatan hari orangtua yang jatuh pada tanggal 8 Mei. Awalnya aku heran dimana-mana banyak yang membawa bunga, baik itu berupa buket bunga ataupun bunga yang ditaruh di pot kecil. Sepanjang jalan menuju penginapan, banyak kutemui para penjual bunga. Aku tertarik untuk beli satu pot bunga. Namun, niat itu kuurungkan karena aku harus bisa mengatur keuanganku selama di Korea Selatan, supaya tidak over budget karena rencananya mau bikin trip Seoul dan Busan selama di Korea Selatan. Karena aku lelah menantimu memanggul ransel, sebelum jalan-jalan ransel akan dititipkan ke penginapan, walau saat itu belum waktunya untuk check in.

Menuju Korea Selatan

0 comments
Harapan dan impianku untuk menginjakkan kaki di Korea Selatan akan segera terwujud. Tiket PP Jakarta - Seoul dengan maskapai AirAsia telah ditangan melalui pembelian promo di tahun 2014 lalu. Visa Korea Selatan pun sudah kudapatkan dengan proses yang terbilang lancar, walau ada sedikit rasa deg-degan selama menanti persetujuan dari Kedutaan Besar Korea Selatan. 

Menjelang hari keberangkatan, terjadi musibah yang sangat tidak terduga.

Dream Came True

0 comments

"Don't let your dreams be dreams"

Begitulah quote yang aku baca di salah satu aplikasi foto. Beberapa referensi buku yang kubaca, semua pencapaian besar orang-orang terkenal berawal dari mimpi. Tepatnya, sih, mimpi yang disertai keyakinan kuat dan usaha untuk mewujudkan. Karena kalau cuma mimpi tanpa tindak lanjut, itu sih, mimpi kosong belaka.

Waktu usiaku 11 tahun, aku ikut olahraga beladiri taekwondo dan dalam sekejap langsung jatuh cinta mendalam dengan olahraga itu. Hingga bermimpi kalau suatu saat aku bisa berlatih dan bertanding taekwondo di negara asalnya, yaitu Korea Selatan. Saat itu, rasanya aku bisa mewujudkan mimpiku kalau aku tekun dan giat berlatih menjadi atlet taekwondoin. Namun, ternyata

Playlist