Minggu, 04 Mei 2014

Sang Abdi Praja: Sebuah Novel


Resensi buku kali ini tentang sebuah novel yang terinspirasi oleh kisah nyata yang terjadi di IPDN/STPDN. Penulisnya sendiri merupakan lulusan dari perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Judul     : Sang Abdi Praja:Sebuah Novel
Penulis  : Jose Rizal
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2013



Hukuman kekerasan fisik yang diterapkan ketika ada junior yang melakukan kesalahan merupakan salah satu tradisi yang tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan berasrama. Hal ini pun terjadi di STPDN.

Di awal bab sudah diceritakan bagaimana Maximus, praja STPDN asal Sulawesi Utara harus menghadapi kekerasan fisik dari lima orang seniornya di suatu malam karena alasan yang terlihat sepele, seperti tidak hadir saat kumpul kontingen. Padahal isi dari kumpul kontingen itu sendiri bukan menjadi ajang silaturahmi antar rekan atau dengan senior melainkan ajang pembuktian superioritas senior yang merasa senior itu harus dihormati dengan berbagai cara.

Hal seperti itulah yang menjadi bibit timbulnya perasaan dendam untuk melampiaskan hal serupa ketika kelak mereka telah menjadi senior. Padahal kalau dicermati, apakah perasaan dihormati dan disegani itu akan timbul ketika yang bersangkutan melakukan kekerasan fisik?


Perumpamaan yang tepat bagi para senior itu adalah bagaikan serigala berbulu domba, para senior datang ke SMA dengan janji manis mempromosikan STPDN, bahwa mereka datang dari universitas terbaik di seluruh Indonesia. Mereka datang dengan keramahtamahan, keelokan bertutur bahasa, dan penampilan yang sarat pesona. Hal yang mampu membuat anak-anak berseragam abu-abu terpikat dan bertekad untuk mengikuti jejak mereka.

Namun ketika para junior itu datang memenuhi undangan mereka, tak segan mereka dipukuli dan diberi kekerasan fisik oleh para senior yang dulu berwajah ramah saat mendatangi sekolah mereka.
“dendam itu seperti api, awalnya kecil lama-lama jadi besar, lalu akan merusak segalanya. Kalian akan sibuk mencari cara bagaimana membalaskan dendam, sehingga melupakan hal utama, tujuan dalam hidupmu, yakni menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu…” (hal.13)
Selain Maximus, ada ratusan pemuda pemudi yang sama-sama bersekolah di STPDN. Mereka berasal dari strata sosial yang berbeda dan karakteristik perilaku yang berbeda-beda pula. Dalam buku ini, diceritakan bahwa mereka adalah mahasiswa STPDN angkatan pertama yang lulusannya memiliki pangkat golongan III, sedangkan senior mereka lulus dengan pangkat golongan II. Hal tersebut lah yang memicu semakin lebarnya kesenjangan antara senior dengan junior di STPDN.

Bagi yang telah mengalami kehidupan berasrama, terlebih pernah menjadi mahasiswa kedinasan yang semua fasilitasnya diberikan gratis oleh Negara, tentu mengenal dengan baik istilah-istilah seperti: senior, junior, rangkaian tes seleksi, barak, baris-berbaris, pakaian dinas harian (PDH), pakaian dinas lapangan (PDL), pakaian dinas upacara (PDU), dan sebagainya.

Sebelum disahkan atau dilantik menjadi mahasiswa kedinasan, biasanya para calon mahasiswa tersebut mengikuti kegiatan orientasi kampus selama beberapa waktu. Bedanya dengan orientasi pada universitas biasa, orientasi pada sekolah tinggi kedinasan selalu menjadi kegiatan yang ditakuti oleh calon mahasiswa karena dalam kegiatan pengenalan kampus tersebut selalu disertai dengan tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal, seperti: pemukulan, tendangan, tamparan, push up, sit up, lari, bentakan, makian, dan sebagainya. Seperti yang dapat disaksikan di media massa beberapa waktu lalu.

Dalam masa orientasi pengenalan kampus, saat makan, tidur, dan beribadah pun dalam kondisi mencekam. Penciptaan kondisi mencekam tersebut bertujuan untuk penanaman doktrin-doktrin. Setiap hari mahasiswa diberikan doktrin. Yang berhak memberikan doktrin adalah senior, bukan pengasuh atau dosen karena doktrin adalah otoritas mutlak para senior.
“mengosongkan pikiran dengan membuat stress, latihan fisik, dikungkung di barak, terisolasi dari semua hubungan luar, tak ada informasi apapun, tak boleh kirim kabar ke sanak saudara di kampung. Pokoknya yang harus diinap-inapkan dalam kepala yang telah kosong itu hanyalah doktrin dan doktrin lagi.” (hal. 192)
Doktrin yang ditanamkan senior tersebut berpedoman pada Peraturan Kehidupan Praja, yang berisikan segala hal yang harus dilakukan praja, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Doktrin ini sebenarnya bertujuan baik, yaitu “produk” yang dihasilkan oleh STPDN kelak memiliki program yang sama, walau dari mana pun asal-muasalnya. Artinya, praja dari Aceh hingga Papua memiliki rasa yang sama dan satu, rasa itu bersama nasionalisme. Kegunaan doktrin adalah menghilangkan ego kedaerahan, fanatisme terhadap suku, agama atau ras tertentu hingga menghilangkan garis si kaya dan si miskin.
“doktrin itu seperti berbagai program yang dimasukkan dalam sebuah komputer. Sesuka hati si empunya komputer, ingin menggunakan program apa saja yang sesuai pula dengan kebutuhannya. Demikian halnya doktrin.” (hal. 193)
Di sela-sela pemberian doktrin, pasti selalu disertai dengan hukuman. Hukuman semestinya bertujuan pada hasil akhir yang lebih baik dan diberikan dengan cara yang baik pula dan memang tepat sasaran. Hukuman yang tidak jelas tujuannya sebaiknya dihilangkan atau diganti dengan hukuman yang sifatnya tidak menyakiti.

Walau judulnya sebuah novel, namun beberapa kejadian di buku ini terasa nyata. Dapat terbayang dengan jelas di benak, bagaimana mencekamnya suasana pada saat steling dilakukan, saat degup jantung berdebar-debar disertai rasa takut akan pukulan yang datang bertubi-tubi kala melakukan kesalahan.

Apakah memang penanaman doktrin yang terbaik itu dengan cara menanamkan rasa ketakutan dan stres?

Dalam buku ini, Penulis menceritakan kisah-kisah yang terjadi di sebuah perguruan tinggi kedinasan, yang pernah menjadi pemberitaan media massa beberapa waktu silam. Alur penulisannya enak untuk diikuti. Pembaca, baik yang pernah maupun tidak pernah mengalami kuliah kedinasan, dapat memperoleh gambaran secara umum mengenai kehidupan yang terjadi di kampus berasrama.

0 comments:

Posting Komentar

Playlist