Kamis, 22 Oktober 2009

me VS pengemis


hari pertama aku ngantor naik bus,,, aku melihat seorang nenek di perempatan Cilandak yang katanya nyasar dan ketinggalan bus. Akhirnya aku kasihan dan memberi uang padanya..... dengan harapan, nenek itu bisa kembali ke rumah dengan selamat.

hari berikutnya dan aku masih naik bus ke kantor, aku kembali bertemu nenek itu dan ia pun mengulang pernyataan yang sama dengan hari sebelumnya. Aku bingung, bukannya nenek itu tersesat??? Saat itu aku baru sadar bahwa dia seorang pengemis. Dan aku pun memberi uang lebih sedikit dari hari sebelumnya dengan harapan keesokan harinya dia sudah tidak beroperasi di perempatan Cilandak.

Beberapa hari kemudian, aku ngantor naik bus lagi dan bertemu lagi dengan nenek itu! kekesalanku padanya pun timbul dan aku berlalu di hadapannya tanpa mendengarkan ucapannya. Sayup-sayup kudengar dia menggerutu kecil di belakangku. Aku nggak peduli dia mau bilang apa karena aku masih kesal. Aku merasa tertipu oleh nenek itu. Dia menyalah artikan kebaikan orang lain.

Dan hari ini pun, aku kembali lewat di hadapan nenek itu dan dia langsung menggerutu padaku. Aku tetap cuek dan tidak mempedulikan nenek itu. Yang membuatku heran, dari sekian banyak orang yang lewat dihadapannya, aku merasa dia menggerutu hanya padaku? Apakah karena aku sudah malas memberinya sedekah????

Dalam pemikiranku, orang-orang yang mengemis tapi menipu seperti dia tidak layak untuk dikasihani karena cara yang dia gunakan salah. Aku lebih menghargai seorang kakek (pengemis yang juga sering kutemui) yang mengemis di pagi hari menggunakan pakaian bercorak loreng-loreng hijau di sekitar Cilandak-Fatmawati. Dia mengemis selagi lampu merah menyala dan dia memang terlihat lebih membutuhkan daripada si nenek aneh itu. Yang paling aku suka darinya, dia selalu tersenyum kepada siapapun. Entah orang itu memberi dia sedekah atau tidak. Berbeda sekali dengan si nenek, yang sering menggerutu bila aku tidak memberi dia sedekah..

0 comments:

Posting Komentar

Playlist